Kegalauan Dini
Pagi itu gemuruh,menderu bunyi-bunyi yang kian memekik telingaku. Siangnya, panas matahari begitu menyengat hingga langkah kaki terasa terhambat oleh letih yang kian tertatih. Sore terlewat dengan langkah kaki yang menyeret. Malam pun berlalu dengan mata yang enggan terpejam ditemani alat ketik yang serasa ikut enggan memejamkan dirinya. Begitulah hari yang disapa matahari dan mendapat ucapan selamat tinggal dari rembulan itu.
Saat sunyi, hati ini bertanya. Sebenarnya apakah yang hendak aku cari di alam yang tak tau sampai kapan aku bisa berada di dalamnya. Meski orang biasa nampaknya kehidupan ini kini tela berlalu baka kehidupan artis ibukota yang jadwal aktifitasnya bagai kemacetan kendaraan di waktu mudik lebaran. Tapi, hidup itu berjalan dan berkembang. Apalah arti hidup jika kehidupannya dinamis tanpa adanya peubahan?
Namun jika direnungi, perubahan yang begitu besar telah terjadi dalam hidupku. Saat aku jauh dari kehidupanku yang sekarang, aku merasa hidupku ya hanya untuk hidup saja. Namun, jalan yang kini aku berdiri bersamanya merupakan jalan yang belum pernah terlintas di fikiranku. Namun,jalan ini memberikanku negitu banyak pengartian hidup. Hidup itu untuk bernagi dan menebarkan kebermanfaatan untuk sesama yang telah diciptakan untuk mendapat hidup yang sama-sama layak meski belum tentu memiliki kesempatan yang sama antara satu dengan yang lainnya.
Jika direnungi begitu mendalam, rasa syukur ini tak akan pernah berhenti terucap untuk smeua yang telah berada dalam genggaman tangan saat ini. Tidak pernah terbayang bagaimna kisah-kisah masa perkuliahan akan menghiasi hidup yang awalnya hanya kurencanakan dengan begitu datar tanpa adanya mimpi besar untuk berharap lebih melihat apa yang dimiliki oleh tanagn ini...


